Monday, June 25, 2012

nikmatnya nelen lendir



Naluri biseks pada diriku yang menuntun aku untuk bertualang di seputar para waria.

Demikian banyak waria bisa aku temui di Jakarta ini. Mereka ada di jalan Krakatau, Taman Lawang, di seputar Taman Anggrek, di kolong jembatan Dukuh Atas, di kolong jembatan Jatinegara dan banyak tempat lainnya.

Di Taman Lawang mereka adalah termasuk waria yang dianggap berkelas elite. Tidak jarang diantaranya ada yang orang berada atau berpendidikan tinggi. Banyak diantara mereka yang saat siang hari adalah para karyawan golongan menegah ke atas.

Mereka memang tidak memerlukan uang kita. Tetapi menerima uang dari kita merupakan sensasi seksual yang sangat mereka nikmati.

Mereka merasakan puas saat seorang lelaki menggaulinya dan membayar atas kepuasan seks yang mereka suguhkannya. Mereka merasakan sensasi saat seorang lelaki mesti membayar sejumlah uang sesudah menciumi penisnya ataupun menjilati analnya.

Dan mereka juga demikian menikmati saat tawar menawar mengenai berapa besar seseorang mesti mengeluarkan uangnya untuk menikmati organ-organ tubuhnya. Bahkan terkadang dalam rincian, misalnya Rp. 10 ribu untuk mencium pipi, atau Rp. 15 ribu untuk menjilat pentil susunya, atau Rp. 20 ribu untuk bisa mengurut-urut penisnya.

Tetapi juga jangan heran, kalau syahwat mereka sudah birahi berat pada anda, bukan anda yang mengeluarkan uang, mereka akan memberi anda uang atau kenikmatan atau apapun yang anda minta.

Pada dasarnya para waria di Taman Lawang ini rata-rata memang haus sentuhan seksual. Mereka mencari kepuasan yang bisa menyalurkan kebutuhan libidonya.

Begitulah sore itu, Jumat malam, besok Sabtu yang libur, aku iseng. Dengan sepeda motor Hondaku aku menghirup udara sore Jakarta, lewat daerah Menteng dengan satu tujuan, Taman Lawang. Aku tahu, di tempat ini akan ramai sesudah jam 9 malam ke atas. Tetapi nggak masalah. Banyak warung remang-remang di seputar Taman Lawang. Mereka jual ronde, kopi, makanan kecil, bakmi goreng atau kalau pengin yang agak panas, ada juga OT atau anggur cap Orang Tua, yang dijamin langsung limbung dan dunia rasa berputar sesudah menghabiskan beberapa sloki saja.

Nah, kini aku duduk di bangku panjang di udara terbuka di sebuah warung kaki lima. Duh, sungguh indah Jakarta ini. Lihatlah betapa langit yang cerah penuh bintang. Bayangkan dengan duduk begini aku bisa menikmati segalanya. Menikmati udara yang segar, cuci mata dan mengisi perut dalam suasana yang akrab dan ramah.

Penjual warung menyambutku dengan girang dan melayani permintaanku secepatnya. Demikian pula para pembeli lain yang terlebih dahulu datang, mereka menganggap aku sebagai bagian dari mereka. Kami bisa langsung ngobrol dan berkelakar.

Tanpa terasa waktu sudah merambat. Jam tanganku menunjukkan pukul 8.30 malam. Nampak beberapa mobil parkir meramaikan jalan. Sorot lampu-lampu Jakarta menunjukkan pesonanya. Beberapa waria mulai berdatangan. Entah dari mana mereka. Seakan muncul begitu saja dari dalam bumi. Mereka tampil dengan dandanan dan mode terakhir.

Aku lihat di seberang sana ada 'lady boy' memakai busana kulit. Rasanya model itu milik Giorgio Armani yang baru tadi malam kusaksikan di CNN pada pesta mode di rumah modenya di Paris. Dan yang itu, sebelah kanannya, si 'cantik jantan' yang jangkung dengan baju belah punggungnya yang woo.. bukan main.. seksi bangeett..

Tiba-tiba seseorang menepuk punggungku, "Maass.. bagi rokoknya dong.."

Begitu aku nengok, wah.. Aku kaget banget. Kenapa ada hantu Ancol di sini?!

Seorang waria yang cantiknya luar biasa mengingatkan aku akan Dyah Permatasari yang hantu cantik itu. Hantu itu kini sedang bergelayut di pundakku. Duh, duh, duh.. Rasanya aku benar-benar sedang berhadapan dengan hantu yang luar biasa cantiknya itu. Aroma parfumnya langsung menerpa hidungku.

"Rr.. Rokok yang mana?", jawabku agak gugup..

"Yang ini", balasnya juga spontan sambil membungkuk dan mengelusi gundukkan celanaku.

Aku tersenyum dan hilang gugupku. Aku mengeluarkan bungkusan rokok kretekku. Namanya Vera. Anak Palembang, 19 tahun, kulitnya putih, jangkung, rasanya diatas 170 cm. Wah, macam ini yang memang selalu aku dambakan. Tulang pipinya itulah yang membuat Vera ini benar-benar mirip Dyah Permatasari.

Dengan celana jeans ketat yang dipadu blus 'u can see' yang memamerkan bahunya yang putih mulus banget, tampilan jangkung Vera sungguh membuat penisku langsung ngaceng. Aku membayangkan betapa nikmatnya apabila hidung dan lidahku bisa menelusuri bahu itu. Betapa nikmatnya saat menguak bahu indah itu dan mendapatkan hamparan lembah ketiaknya yang putih bersih dan pasti indah serta harumnya.

Wajah dan make-up Vera juga membuatnya semakin mirip dengan Dyah Permatasari yang jadi hantu cantik seksi itu. Ah, jangan sampai kulepaskan dia. Aku langsung jatuh cinta rasanya.

Dan sebaiknya aku cepat bawa pergi sebelum ada buaya lain yang menyambarnya. Semula aku merencanakan untuk mengajaknya ke jalan Tanah Abang. Disana ada hotel kecil yang banyak didatangi para homo atau mereka yang kencan dengan transeksual atau waria macam ini. Aku sudah beberapa kali menggunakan jasa hotel kecil aman ini. Tetapi Vera pengin bermesraan dengan aku di pinggir laut, di pantai Ancol. Aku agak terpana. Jangan-jangan dia benar-benar setan Ancol. Ah, biarlah.. Kalaupun dia benar-benar hantu aku nggak akan pernah menyesal tidur dengan Vera yang sangat cantik ini.

Aku memboncengkan dia dan membawanya ke Ancol. Kami masuk ke kawasan Marina Ancol dimana banyak kapal-kapal mewah ditambat di sana. Begitu aku memasuki kawasan tersebut ada seseorang mendekati kami,

"Mau santai di kapal, Oom. Sepi dan aman di sana. Kalau mau juga bisa pesan minum. Mau yang panas atau dingin. Pokoknya Oom jangan khawatir. Saya jagain. Sampai pagi juga boleh kalau cocok harganya".

"Mau di kapal?", kutanya pada Vera.

"Boleh juga. Sekalian nyobain kapal mewah ya Mas", jawaban Vera yang manja sembari menggelayut di pundakku.

Sesudah bicara dan tawar-menawar tak resmi, karena hal itu semata obyekan penjaga kapal, kami mendapatkan tempat yang sungguh-sungguh nyaman. Sebuah kabin di yacht mewah yang sedang tambat di dermaganya. Nggak tahu punya siapa. Aku taksir punya salah seorang konglomerat Indonesia, nih. Atau jangan-jangan punya pejabat korup. Kalau begitu, ini uang rakyat, dong. Artinya uangku juga, khan? Woo.., asyiikk..

Sementara menunggu pesanan minuman dan makanan kecil kami saling meremas dan berpagutan. Nikmatnya bercumbu dengan waria seperti Vera ini adalah perabot tubuhnya yang serba besar. Aku mencium dan melumat bibirnya dan demikian juga dia melumat dan memainkan lidahnya di mulutku. Aku merasakan betapa mulut dan lidahnya sangat gede. Beda dengan ukuran mulut dan lidah Ningsih pacarku.

Aku juga merasakan betapa aku bisa menyedoti ludahnya yang terus mengalir begitu banyak hingga sangat memuaskan kehausanku. Baik haus nafsu maupun memang juga haus untuk minum air ludahnya. Bahkan beberpa kali nanti aku minta Vera membuang ludahnya ke mulutku.

Ternyata walaupun seorang waria, penis Vera ini sungguh luar biasa gede dan panjang. Di balik celana jeans ketatnya penis itu nampak nyata sudah ngaceng banget. Aku rasakan demikian keras dan hangat saat dia gesek-gesekkan ke pahaku.

Tentu saja aku sangat menikmatinya. Aku sudah membayangkan akan kulumat-lumat dan kujilati nanti. Akan kuciumi bijih pelernya. Lidahku akan menjilati seluruh permukaan batangnya. Mulutku akan menelah seluruh bonggolan keras kepala penisnya itu. Pasti lidahku juga akan bermain-main dan menari di lubang kencingnya. Uuhh.. Vera.., aku akan menikmati tubuhmu sepuasku malam ini.

Begitu si penjaga kapal mengantar minuman dan makanan kecil, Vera selekasnya menutup dan mengunci pintu kapal. Dan dengan tak sabar lagi kami saling terkam. Aku melucuti dia dan dia melucuti aku. Kami bugil. Nampak kini betapa penisnya yang gede panjang itu membuat penisku menjadi demikian kecil nampaknya.

Vera sangat aktif. Dia merosot ke lantai dan mulai merengkuh aku. Dia mulai dengan menjilati dan menciumi ujung-ujung kakiku. Mulutnya mengulum-kulum jari-jari kakiku. Duh, aku nggak kuat rasanya. Merinding syahwatku merasakan lidahnya menyapu celah-celah jari kakiku yang kemudian disusul dengan kulum dan hisapan mulutnya pada setiap jari-jarinya.

Luar biasa sapuan lidah Vera ini. Aku dibuatnya melayang-layang tinggi. Aku sepert terbang di awang-awang nikmat. Aku mendesah berat dan meremasi rambutku sendiri untuk menahan nikmatnya lidah Vera. Saat telapak kakiku juga dirambah oleh lidahnya aku merintih dan menahan gelinjangku. Aduhh.., kenapa begini Veerr..

Dari telapak kakiku lidah Vera naik merambati betis-betis, lutut kanan dan kiri kemudian paha-pahaku. Dan ketika pada akhirnya mukanya nyungsep ke selangkanganku, aku tak mampu menahan terpaan nikmat birahi yang tak terkira.

Saat lidahnya dan bibirnya menyapu dan menyedoti selangkanganku aku berteriak tertahan.
"Duh, Veerr.. Am.. a.. am.. puunn.. Aku nggak tahan Verr.." Aku menggeliat-geliat seperti ular padang pasir.

Dia sangat pintar mempermainkan emosi lawan mainnya. Aku dibuatnya sangat penasaran. Dia belum mau menyedot dan menciumi penisku yang sudah tegak kaku dengan kepalanya yang berkilatan. Dia lewati itu.

Kini kedua tangannya merambah puting susuku. Jari-jarinya memelintir ujung puting-putingnya sambil bibirnya terus merangkak ke atas. Lidahnya terus melata perutku. Puserku dia ubek dan jilat-jilat. Rupanya dia sangat menikmati geliat dan erangan serta rintihan erotisku.

Saat pinggulku dapat giliran lidahnya, tak ampun lagi aku menggelinjang seakan hendak meloncat dari ranjang. Tak kuat aku menanggung derita nikmat ini. Tetapi, disamping cantik dan seksi, Vera juga sangat kuat. Aku tak mampu menolak tubuhnya. Dia terus merangsek dengan jilatan dan ciuman-ciuman pada sekujur tubuhku.

Aku merasakan betapa nikmatnya saat bibirnya mulai menyedot dan menggigiti puting susuku. Gigitan-gigitan kecilnya membuat aku bergidik merinding. Syahwatku merambat cepat menyambar nafsu birahiku. Aku menggelinjang hebat hingga Vera tak kuasa menahanku.

Aku ingin mengambil peranan. Aku ingin aktif. Aku ingin menikmati kecantikan dan sensualitas 'Dyah Permatasari'-ku ini. Kini aku berbalik.

Kudorong Vera hingga rebah dan telentang ke ranjang. Aku menggelutinya. Kuangkat lengan-lengan putihnya ke sebelah atas kepalanya. Kujilati ketiaknya yang bersih wangi itu sepuasku. Aromanya yang menebar menusuk hidungku membuat aku semakin terlada oleh syahwatku sendiri. Entah berapa lama ketiak itu kujilat dan kuciumi hingga ludahku kuyup membasahi keduanya. Dan sebagai balasan Vera ganti mendesah dan merintih memenuhi ruangan kapal mewah itu.

Sesudah puas aku menjilati ketiak aku balik tubuhnya. Kini aku mulai melata dari tengkuknya. Aku suka rambut-rambut tipis yang di tepian ujung lehernya. Kuarahkan lidahku untuk membuat kuyup wilayah itu. Dan hasilnya tak kuduga. Vera menggelinjang hebat dengan tangannya meraih kebelakang untuk menangkap rambutku. Dia menjambak serta meremasi dengan penuh geregetan birahi.

Aku meneruskan jelajah lidahku menelusur turun dan turun hingga ke daerah pinggul belakangnya. Jangan tanya betapa aku sangat bernafsu dengan pinggul seksinya ini. Aku seakan tak puas-puasnya menjilati serta menyedoti pori-pori pinggul ini. Saat lidahku mulai menyentuh belahan bokongnya yang tambun seksi itu hidungku menangkap aroma yang khas. Aroma analnya. Aku menjadi tak sabar.

Aku benamkan mukaku ke belahan bokong itu. Dan lidahku menari mencari sasarannya. Dan agaknya Vera sendiri juga telah menantikan semuanya ini. Tanpa menunggu mauku dia telah bergerak nungging. Dengan kepalanya yang bertelekan ke ranjang dia angkat pantatnya tinggi hingga lubang anusnya langsung terbuka berhadapan dengan mukaku.

Dan kini dengan mudah dan leluasa aku menenggelamkan wajahku ke pantatnya. Hidungku menciumi bau analnya dan lidahku menjilatinya. Di antara rimbunan bulu lembut analnya kudapatkan rasa licin di ujung lidahku. Aku tahu itu adalah lubang duburnya. Lidahku berusaha menembusi lubang itu dan menjilatinya.

Vera tak tahan menghadapi rasa geli di pantatnya. Dia menggoyang dan menggoyang. Pantatnya berusaha menjemput jilatan dan tusukkan lidahku. Aku rangkul paha-pahanya untuk memenuhi harapan Vera. Dan aku mulai merasakan lengket rasa sepat di ujung lidah. Itulah semen lubang duburnya.

"Mas, aku kepingin ditembak. Ayo Mas, masukkan penismu", rintih penuh harap keluar dari bibir Vera.

Vera, aku memang kepingin melakukan penetrasi padamu. Demikian kata hatiku. Aku pengin penisku menembusi analmu yang nikmat ini. Tetapi aku masih ingin mendengar kehausan birahimu. Aku masih ingin mendengar rintihan nikmatmu. Aku masih doyan menikmati bau pantatmu. Aku masih doyan menjilati lubang analmu. Biarkan aku, ya, Veraa.. Biar kunikmati dulu anal ini dengan permainan oralku. Biar kunikmati dulu desah dan rintihmu karena siksaan nikmat yang kamu derita.

"Ayoo, tembak pantatku maass.. Masukkan maass.. ", Vera semakin menggoyangkan pantatnya sebagai tanda desakkan birahinya yang tak terbendung.

Sesudah aku cukup lelah dan pegal, khususnya leherku yang hampir terus menerus mendongak untuk bisa menjilat anal lebih tepat pada lubangnya, aku bangun dan balikkan tubuh Vera agar telentang menantikan penetrasiku. Aku merangkak menghampiri bibirnya. Tanganku berangkat memeluki punggungnya. Aku rebah menindih tubuhnya. Dadaku ketemu dadanya. Bibirku ketemu bibirnya dan kami langsung saling melumat.

Paha Vera membuka dan pinggulku masuk ke dalamnya. Penisku yang sudah sangat tegang mengarah menuju 'vagina'nya. Tangan Vera sigap menangkap kemaluanku untuk menuntunnya tepat ke arah lubang pantatnya. Aku mendorong. Keras. Aku kembali mendorong. Masih keras juga.

Vera menaikkan kaki-kakinya hingga melipat ke arah dada. Kini analnya lebih terbuka. Vera meludah ke tangannya untuk di jadikan pelumas. Sekali lagi dia pegang kemaluanku yang sudah tak sabar untuk melakukan penetrasi. Aku kembali mendorong pelan.

Terus mendorong. Aku merasakan kepala penisku yang mendesak lubang sempit itu. Dan aku merasakan betapa lubang itu semakin menguak untuk menerima tembuasan penisku. Dan.. Akhirnya.. Blezz. Nampak wajah Vera menyeringai. Pedih tapi nikmat, begitu kira-kira yang dia rasakan.

Penisku berhasil menembus gerbang anal Vera. Masuk lagi pelan. Masuk lagi. Masuk lagi. Dan kini seuruh batang penisku telah tenggelam. Aku diam sesaat. Aku biarkan penisku menyesuaikan dengan lubang anal Vera yang sempit itu. Dan aku juga sedang merasakan betapa dinding anal itu mulai meremas-remas batang penisku. Ooo.. Nikmatnyaa..

Dengan sambil menikmati lumatan di bibir, aku memompa anal Vera.

"Duh.. Veraa.. Analmu legit banget ssiihh.."

Vera sendiri telah demikian tenggelam dalam samudra nikmat syahwatnya. Dia pegang erat kepalaku untuk bisa lebih menekan dalam lumatan bibirnya. Dia remasi rambutku sebagai pelampiasan tersalurnya emosi birahinya.

Sementara untuk mencapai kenikmatan di bawah sana, dia menggoyang naik turunkan pantatnya untuk menjemputi pompaan penisku. Suara desah, gumam, racau yang tak jelas maknanya, nafas-nafas yang tak beraturan meramaikan ruang kabin kapal mewah itu. Aku mulai merasakan keringat kami berdua yang saling membasah.

Kami terus mendayung kenikmatan. Vera minta merubah posisi. Dia turun dari ranjang dan tangannya berpegang pada 'backdrop' ranjang itu. Dengan itu tubuh Vera menjadi setengah membungkuk. Ditariknya aku untuk meneruskan penetrasiku. Aku mendekat dan kembali menusuk pantatnya. Kini dari arah belakang. Bermenit-menit aku mendayung untuk memompakan kemaluanku. Racau Vera tak juga hilang,

"Mas, enak banget. Enaakk bangeett.. Maass. Enak.. Huh.. Hacchh.. Hhuucchh.. ".

Aku sendiri sedang terbawa larut dalam nikmat ritmis yang kudapatkan dari dayungan penisku pada anal Vera itu. Rasanya posisi macam ini membuat aku benar-benar mendapatkan kenikmatan birahi yang tak terkira ini.

Pada suatu saat tiba-tiba tangan Vera meraih kebelakang dan meremasi pinggulku. Dia sedang menapaki puncak nikmatnya. Dia menggelinjang hebat dan mengaduh serta merintih. Aku tahu. Vera sedang menjemput orgasmenya. Kusaksikan betapa penisnya ngaceng banget. Dan aku melihat betapa penisnya itu tak ada apapun yang menyentuhnya. Mungkinkah dia mendaptkan orgasme tanpa ada yang menyentuh kemaluannya itu?

Tetapi itulah yang kemudian terjadi.

Dengan teriakkan keras tertahan, Vera, "Ammppuunn.. Maass, ak.. Aa.. Akuu.. Keluaarr.. ".

Menyaksikan itu aku sigap. Dengan cepat aku mencopot kemaluanku dari analnya. Aku jongkok dan menangkap penis Vera. Aku membuka mulutku. Aku kocok-kocok agar penis itu muntah ke dalam mulutku. Vera merem melek. Dan tiba-tiba semburan panas melanda bibirku, lidahku dan meruyak masuk ke mulutku. Air mani Vera telah tumpah.

Berdenyut-denyut dalam beberapa anggukan, penis Vera memompa seluruh kandungan spermanya agar muncrat keluar. Mulutku menjadi berlepotan. Cairan kental Vera bercipratan. Sebagian yang masuk ke mulutku langsung aku kenyam-kenyam dan kutelan. Sebagian lain menyiprat ke daguku dan meleh turun. Sebagian lain mengenai pipi dan mataku.

Dan sebagian lainnya pula langsung bercipratan di atas sprei ranjang dan juga terserak di lantai. Masih dalam angguk-angguk untuk menuntaskan keluarnya air mani itu, jari-jari tangan Vera mencoleki sperma yang tercecer di wajahku. Gumpalan-gumpalan kental berhasil dia raih ke jarinya. Gumpalan itu di suapkan ke bibirku yang sudah siap melahapnya pula. Vera juga mencoleki spermanya yang tercecer di kain sprei untuk kembali aku suap langsung dari jarinya.

"Kamu mau menjilat air maniku yang tercecer di lantai?", Vera menawari aku. Dan tak ayal akupun langsung nungging. Tanpa ragu aku jilati sperma Vera yang tercecer di lantai kabin yang super bersih itu.

"Sayang kan, kalau sampai terbuang percuma", kudengar suara Vera yang erotis banget.

Kami langsung telentang di ranjang untuk isirahat sejenak. Vera menyambar Anker Bir dingin dan melahapi makanan yang di sediakan penjaga kapal itu. Aku mengikuti apa yang dilakukan Vera.

Malam itu beberapa kali kami saling melakukan penetrasi. Aku merasakan betapa kemaluan Vera yang sangat gede seakan hendak merobek bibir analku. Aku merasakan betapa pedih dan panas saat kemaluan gede itu memompa analku. Aku merasakan betapa nikmat dan hangatnya saat akhirnya sperma Vera menumpahi liang anusku.

Hingga Vera telah berhasil 3 kali menyemprotkan air maninya, aku belum juga mendapatkan orgasmeku. Walaupun untuk sementara aku merasakan kepuasan bisa mendorong Vera mendapatkan kepuasan seksualnya. Tetapi pada akhirnya aku khan harus memuncratkan air maniku pula. Dan itu juga ditunggu oleh Vera yang sangat ingin makan air maniku.

Aku memang agak kesulitan dalam mengeluarkan spermaku. Aku memerlukan rangsangan-rangsangan yang spesifik. Kepada Vera aku minta dia meludahi mulutku sementara tanganku atau tangan dia mengocoki penisku. Entah telah berapa belas kali aku menerima serpihan ludahnya, belum juga spermaku mau keluar.

Kemudian aku minta air kencingnya. Aku minta Vera mengencingi mulutku sambil aku melakukan onani. Dan ah.., rupanya cara ini bisa menghasilkan harapanku. Sesaat aku harus sabar menunggu. Vera sedang merangsang dirinya untuk kencing. Anker Bir yang diminumnya mempercepat keinginan kencingnya.

Mulutku mulai menganga untuk menerima pancuran kencingnya. Sementara itu di bawah daguku aku membawa gayung bak mandi untuk menampung kencing yang tercecer. Akhirnya cairan pekat kekuningan mancur dari ujung penis Vera. Kehangatannya langsung menyirami mulutku dan mengaliri tenggorokanku. Syahwat birahiku langsung melonjak saat hidungku membaui aroma air kencing Vera. Aku merasakan aroma Anker Bir menyertai air kencing wangi itu.

Tanganku mulai bersemangat mengocoki kemaluanku. Aku mendapatkan nafsuku birahiku yang semakin meninggi. Aku terus mengocok-ocok dan semakin mempercepat. Aku bisa merasakan aliran syahwat yang mulai terkonsentrasi di seputar kemaluanku. Aku merasakan ketegangan yang luar biasa pada penisku. Aku merasakan sebuah sensasi.

Di atas mulutku menganga menerima pancuran kencing kuning pekat milik Vera, di bawah aku harus menyiapkan semprotan spermaku tumpah ke lantai kabin mewah ini. Dan tak ayal lagi. Rangsangan syahwat yang merambati saraf-saraf peka di seputar kemaluanku mulai mendorong keluar air maniku. Makin dekat. Dan semakin dekat. Aku masih sempat bilang pada Vera bahwa air maniku akan tumpah.

Kini ganti Vera yang jongkok dan aku dimintanya berdiri sambil terus mengocoki penisku. Sambil meneguk air kencing Vera dari gayung aku terus merangsang penisku hingga..

"Veraa.., aku keluaarr.., Vveerr.. ", aku rasakan saluran spermaku menegang. Dan betapa nkmat saat terasa aliran sperma itu melalui saluran tadi. Crot, crot, crot.. Kulihat mulut Vera yang telah tengadah menganga menyambut semprotanku. Dengan rakusnya dia menelan seluruh cairan kentalku.

Kami kembali rebah ke ranjang. Aku nggak tahu lagi macam apa aroma yang memenuhi di kabin mewah itu. Ada keringat, ada parfum ada bau laut Ancol. Apapun itu dalam kenyataannya telah mampu mengiringi kami meraih kepuasan hubungan seksual antara aku dengan Vera si waria cantik itu.

Aku sedang mengantuk berat saat pintu kabin diketok seseorang. Tiba-tiba bau amis ikan di pantai Ancol yang menyengat menerpa hidungku. Aku baru mau buka pintu yang terkunci ketika seseorang telah berada di dalam. Aku kaget. Lho, kamu Vera. Bukannya kamu masih tidur? Aku menengok ke sampingku yang kuyakini Vera yang masih tertidur.

"Dia itu Vera palsu. Akulah yang asli. Akulah Vera yang sesungguhnya. Seharusnya kamu berasyik masyuk denganku".

Aku belum sempat menjawab ketika dengan sangat kuatnya, namun nampaknya bagi dia itu ringan banget, dia angkat aku untuk balik telentang ke ranjang. Tanpa ba bi bu, dia langsung merangsek aku. Dia nyosor melumati bibirku. Bau amis pantai Ancol langsung sirna. Aku diterpa aroma yang sangat harum dan sangat memukau dari tubuhnya. Aku langsung merespon lumatannya.

Kami bertukar ludah. Lidahnya menyeruak seperti ikan sembilang yang mengaduk rongga mulutku. Aku bergelinjang. Libidoku terpana dan bangkit berkobar. Aku tak lagi peduli. Entah ini Vera palsu atau Vera asli. Aku dikejar syahwat birahiku. Tenagaku telah kembali segar yang sebelumnya telah habis kelelahan bercumbu dengan Vera yang lain. Kurenggut penis Vera baruku. Duh, ternyata kerasnya bukan main. penis ini gedenya tepat segede Vera sebelumnya, tetapi kerasnya berlipat kali.

Telapak tanganku merasakan otot-ototnya yang kasar melingkar-lingkar di seputar batangnya. Dan saat kuraba lubang kencingnya aku merasakan precumnya telah mengalir deras. Precum yang sangat licin itu kubalurkan pada batangnya yang membuatnya jadi licin banget dan ngacengnya semakin keras.

Aku pengin banget dia melakukan penetrasi ke lubang pantatku. Aku akan merasakan legit dengan permukaan batang yang bulat gede dan licin itu. Aku menggoyangkan tubuhku dan merubah posisi. Aku setengah tengkurap dan nungging. Vera tahu. Dia bergeser dan memeluki aku dari arah belakangku.

Dengan merangkul dan menciumi kudukku dia berusaha menusukkan kemaluannya yang licin banget itu ke analku. Dan.. Bleezz.. Ah, sangat mulus. Duh, nikmatnyaa..

Dia langsung mengayun. penisnya yang gede panjang itu kurasakan setiap mili meternya menerobosi dinding analku. Nikmatnya luar biasa. Bahkan aku tak dapatkan kenikmatan macam ini dari Vera yang kubawa dari Taman Lawang tadi.

Sementara itu aku juga sambil berpikir. Kenapa Vera Taman Lawangku nggak terbangun sementara kami demikian seru bergelut mengumbar nafsu syahwat kami. Apakah karena demikian lelahnya hingga tak mendengar rintihan atau desahan-desahan kami? Ah, masa bodo.

Aku demikian terampas oleh kenikmatan yang diberikan Vera baruku ini. Kemaluannya yang sangat keras itu demikian tegar menghunjam-hunjam lubang analku. Aku demikian mendapatkan nikmat yang tak terhingga. Aku mengaduh dan merintih-rintih menerima nikmat. Dan aku merasakan betapa puncak orgasmeku mulai menampakkan wujudnya.

Aku kini sama sekali nungging dengan kepalaku yang menekan ke bantal. Vera baruku menaiki aku. Kami melakukan seperti anjing kawin. Dengan perkasa dia menaik turunkan pantatnya memompakan kemaluannya ke analku.

Tak pelak lagi, spermaku telah berada di ambang muncrat. Tanganku meraba dan membuat kocokkan untuk menggiring aliran sperma menuju ke saluran keluarnya. Dan itulah yang kemudian terjadi.

Bersamaan dengan itu aku mendengar desahan histeris dari mulut Vera baruku. Itu pertanda dia juga sedang menghadapi orgasmenya. Adakah kami akan mendapatkan orgasme secara bersamaan??

"Mass, ayoo.. Keluar bareengg.. Ayyoo mass.. ", demikian teriakan Vera baruku.

Ah, benar. Pada saat yang bersamaan kami saling renggut dan cakar. Spermaku muncrat tumpah ke sprei. Dan Vera baruku melepaskan spermanya ke dalam analku. Sebuah getar panas terasa meruyak dalam dinding-dinding pantatku. Sepertinya Vera baruku ini melepaskan sebuah sengatan.

Sperma Vera baruku ini demikian panas dan keras menyemproti ke dalaman analku. Aku nggak tahu, mungkinkah penisnya yang gede itu melukai dinding-dinding analku?

Aku tak mampu berpikir terlalu jauh. Kini aku sedang merasakan kenikmatan ganda yang melandaku. Kenikmatan sperma Vera yang muncrat dalam analku dan kenikmatan spermaku yang tumpah hingga membuat spreiku penuh lengket oleh cairan kentalku.

Dan tiba-tiba aku merasa sangat lelah. Aku sempat melihat saat Vera 'misterius' itu keluar pintu kabin. Tetapi mataku sangat berat. Sebelum sempat bertanya atau mengucapkan terima kasih atas kenikmatan yang dia berikan aku telah jatuh tertidur.

Aku tertidur pulas hingga subuh. Penjaga kapal itu membangunkan kami. Aku agak geragapan membuka pintu kabin. Loh, kok masih terkunci? Bukannya tadi malam telah dibuka oleh seseorang yang mengaku Vera asli itu?

Sementara itu aku kembali diterpa bau yang sangat amis seperti yang aku rasakan tadi malam menjelang kedatangan Vera 'misterius' itu. Aku tidak banyak bertanya karena bau macam itu memang khas bau pantai macam Ancol ini.

Tetapi sempat kutanyakan kepada penjaga kapal apakah ada perempuan atau waria yang datang ke kapal tadi malam? Dia bilang tidak melihatnya. Dia sendiri pulas tertidur sehingga tidak tahu apakah ada yang datang atau pergi.

Kulihat secercah semburat cahaya matahari sudah menampakkan diri di langit timur. Aku merasa kesiangan. Aku sedikit panik. Bagaimana mungkin aku memboncengkan Vera saat hari menjelang terang.

Siapa tahu ada kawan yang sedang lari pagi atau seseorang lain yang mengenaliku. Kubangunkan cepat-cepat si Vera. Kami masih sempat berpagutan. Aku masih merasakan ludahnya bertukar dengan ludahku. Aku janji untuk menjumpai pada kesempatan lain.

Aku minta penjaga kapal memanggilkan taksi untuk Vera. Aku tidak menceritakan tentang Vera lain yang kutemui tadi malam pada Vera. Aku hanya bertanya apakah tidurnya enak? Mimpi indah? Aku juga pastikan untuk menjemput kembali Vera dalam beberapa hari ini.

Aku juga pesan pada penjaga kapal untuk sewaktu-waktu kalau aku kembali. Dia senang menyambutku. Apalagi beberapa lembar ratusan ribu rupiah juga masuk ke koceknya. Saat mau turun, kulihat seekor ikan sembilang yang gede banget terdampar di lantai kapal sedang berontak untuk kembali ke air. Penjaga kapal itu cepat menangkapnya dan memasukkannya ke keranjang ikan yang selalu tersedia di situ.

Dia cerita bahwa banyak ikan sembilang di Dermaga Marina ini yang sering loncat ke kapal. Kuperhatikan ikan sembilang itu. Sangat indah dan mempesona. Besarnya luar biasa. Mungkin sekitar 2 atau 3 kg. Pasti ekor dan sirip-siripnya sangat indah saat berenang di pantai.

Matanya yang bulat yang memang tak berkedip itu seakan minta aku menurunkannya kembali ke air. Tubuhnya menggeliat saat aku menyentuhnya. Bau amisnya yang sangat menyengat mengingatkan bau amis di kabin tadi malam menjelang ketemu Vera 'misterius' itu.

Aku menyaksikannya sesaat. Timbul perasaan ibaku. Bukankah dia akan lebih nyaman dan senang apabila kembali ke air untuk menemukan dunianya sendiri. Kusodorkan lembaran 50 ribuan kepada penjaga kapal itu. Ikan dan keranjangnya pindah ketanganku.

Sesudah Vera pergi dengan taksinya, dengan motorku aku menyusuri pantai Ancol hingga ke ujung timur. Udara laut di pagi hari sangat sehat bagi manusia. Ikan sembilang besar itu kukeluarkan dari keranjangnya dan kulepaskan kembali ke laut. Sangat gembira hatiku melihat ikan sembilang itu cepat menghilang ke pasir-pasir yang terserak di sepanjang pantai itu.

No comments:

Post a Comment